Tampilkan postingan dengan label PEP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PEP. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juni 2017

TEORI-TEORI PEMBANGUNAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI - pengantar ekonomi pembangunan



PENGELOMPOKAN TEORI
Untuk mengelompokkan teori-teori pertumbuhan dan pembangunan ekonomi secara tepat dan sederhana bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan misalnya "periode waktu" lahirnya teori tersebut atau "ide" dari teoritersebut. Namun demikian, setelah memperhatikan beberapa kepustakaan yang membahas tentang teori pembangunan, akhirnya dibuat klasifikasi seperti yang dibahas dalarn bab ini. Tentunya tidak semua teori yang ada akan dibahas di sinimengingat buku ini hanya ditujukan untuk tingkat pengantar saja. Dari mazhab historismus dibahas teori Friedrich List, Bruno HiIlebrand, Karl Bucher, W. W Rostow.
A.    MAZHAB HISTORISMUS
Mazhab Historismus ini melihat pembangunan ekonomi berdasarkan suatu polapendekatan yang berpangkal pada perspektif sejarah. Dalam alam pikiran mazhab ini fenomena ekonomi adalah produk perkembangan menyeluruh dan dalam tahaptertentu dalam perjalanan sejarah. Mazhab ini mendominasi pemikiran ekonomi diJerman selama abad XIX sampai awal XX.
1.      FRIEDRICH LIST (Cara Produksi)
List dipandang sebagai pelopor yang meletakkan landasan bagi pertumbuhan pemikiran ekonomi mazhab Historismus ini. Menurut List, sistem liberalisme yang laissez-faire dapat menjamin alokasi sumberdaya secara optimal. Perkembangan ekonomi sebenarnya tergantung pada peranan pemerintah, organisasi swasta dan lingkungan kebudayaan. Perkembangan ekonomi hanya akan terjadi, jika dalam masyarakat ada kebebasan dalam organisasi politik dan kebebasan perorangan. Perkembangan ekonomi, menurut List, melalui 5 tahap yaitu tahap primitif, beternak,pertanian, pertanian dan industri pengolahan (manufacturing), dan akhirnya pertanian, industri pengolahan dan perdagangan.
Pendekatan List dalam menentukan tahap-tahap perkembangan ekonomi tersebut berdasarkan pada "cara produksi" nya.Selain itu, List juga berpendapat bahwa daerah-daerah beriklim sedang paling cocok untuk pengembangan industri, karena adanya kepadatan penduduk yang sedang yang merupakan pasar yang cukup memadai. Sedangkan daerah tropis kurang cocok untuk industri karena pada umumnya daerah tersebut berpenduduk sangat padat dan pertanian masih kurang efisien.
2.      BRUNO HILDEBRAND (Cara Distribusi)
Pemikiran Hildebrand selalu menekankan evolusi dalam perekonomian masyarakat. Sebagai kritiknya terhadap List, Hildebrand mengatakan bahwa perkembangan ekonomi bukan didasarkan pada "cara produksi" ataupun "cara konsumsi", tetapi pada "cara distribusi" yang digunakan. Oleh karena itu ia mengemukakan 3 sistemdistribusi yaitu:
a.       Perekonomian Barter (natura)
b.      Perekonomian Uang
c.       Perekonomian Kredit
Sayangnya, Hildebrand tidak menjelaskan proses perkembangan dari tahap tertentuke tahap berikutnya. Selain itu, Hildebrand juga ternyata tidak memberi sumbanganyang berarti terhadap peralatan analitis di bidang ilmu ekonomi.
3.      KARL BUCHER (Produksi & Distribusi)
Pendapat Bucher merupakan sintesa dari pendapat List dan Hildebrand. Menurut Bucher, perkembangan ekonomi melalui 3 tahap yaitu:
1. Produksi untuk kebutuhan sendiri (subsistem)
2. Perekonomian kota di mana pertukaran sudah meluas .
3. Perekonomian nasional di mana peran pedagang menjadi semakin penting.


B.     DOKTRIN PERTUMBUHAN BERIMBANG DAN KONSEP PERTUMBUHAN TIDAK BERIMBANG

1.      Doktrin Pertumbuhan Berimbang
            Doktrin ini dianut oleh beberapa penulis yang masing masingnya punya tafsiran sendiri,beberapa penulis mengatakan investasi di sektor atau industri berlangsung lamban agar sejalan dengan sektor lain,sebagian lainnya beranggapan investasi harus berlangsung serentak disemua sektor atau industri,pengertian lain merupakan pembangunan berimbang antara industri manufaktur dan pertanian.
            Pertumbuhan berimbang butuh keseimbangan antara berbagai industri barang konsumen,antara barang konsumen dan industri barang modal,juga berarti keseimbangan industri dan pertanian antara sektor dalam negeri dan ekspor perlukan keseimbangan antara overhead sosial dan ekonomi serta investasi langsung produktif antara ekonomi eksternal vertikal dan eksternal horisontal,jadi teori pertumbuhan berimbang haruskan adanya pembungan serentak dan harmonis di berbagai sektor ekonomi hingga tumbuh bersama.Teori ini didukung Rosentein-rodan,Ragnar Nurkse,serta Arthur Lewis.
            Rosentein-rodan merupakan ekonom pertama kemukakan mengenai teori pertumbuhan berimbang,ia mengatakan seluruh industri yang didirikan di Eropa Barat dan Tenggara direncanakan suatu perusahaan raksasa.
            Sedangkan menurut Nurkse lingkaran setan kemiskinan yang terjadi di negara terbelakang melambatkan perkembangan ekonomi,jalan keluar dari kebuntuan ini dengan menginkrosinasikan  pengguanan modal di berbagai macam jajaran industri inilah cara mencari titik terang.hasilnya perluasan pasar secara menyeluruh.ia berpedoman pada hukumnya dan mengutip formulasi mill.Gelombang investasi modal di sejumlah industri yang beraneka macam oleh Nurkse disebut pertumbuhan berimbang.
            Menurut lewis  dalam prgram pembangunan sektor ekonomi harus tumbuh secara serentak untuk menjaga kesimbangan yang tepat antara industri dan pertanian serta produksi untuk konsumsi dalam negeri dan ekspor.
·        Kritik terhadap pertumbuhan berimbang :
a)      Peningkatan biaya,dengan pendirian industri secara serentak mungkin tingkatkan daya uang dan biaya rill  produksi.
b)      Tidak menaruh perhatian pada penurunan biaya, Kidleberger mengatakan Nurkse tidak menaruh perhatian mengenai penurunan biaya indsutri yang ada.
c)       Masalah lain,Marcus Fleming mengatakan doktrin pertumbuhan berimbang anggap bahwa hubungan antara industri sebagian besar saling melengkapi,keterbatasan persediaan jelas tunjukan bahwa hubungan sebagian besar saling bersaing.
d)     Gagal sebagai teori pembangunan, Menurut Hirschman teori pertumbuhan berimabang gagal sebagai teori penbangunan,ia menganggap pertumbuhan berimbang merupakan pemaksaan sektor industri yang baru berdiri
e)      Melebihi kemampuan negaara terbelakang,Hirschman mengatakan doktrin nin gabungkan sifat pasrah pada perekonomian terbelakang dengan harapan muluk terhadap daya cipta.
f)       Disproporsi faktor,dalam hal ini tidak profesionalnya faktor produksi.
g)      Kelangkaan sumber,doktrin ini didasarkan hukum Say bahwa penawaran ciptakan permintaan,tapi di negara terbelakang penawaran faktor tidak elastic
h)       Anggapan keliru mengenai hasil yang meningkat,jika investasi dilakukan serentak di semua bidang yang berhubungan maka timbul kelangkaan bahan mentah,hargaa dan faktor serta lainnya sebabkan kemerosotan hasil.
i)        Gumpalan modal bukan hal pokok  bagi pembangunan,pengalaman negara maju tunjukan bahwa banyak jasa disediakan lebih dulu dengan biaya investasi yang rendah
j)        .Pertumbuhan berimbang bukan hal pokok bagi Induced Invesment,Kurihara mengatakan pertumbuhan berimbang tidak dimaksudkan untuk merangsang investasi swasta tapi untuk kepentingan dirinya sendiri seperti yang dkatakan Nurkse
k)      .Tidak pertimbangkan perencanaan,Myrdal beranggapan  Nurkse tidak menerangkan bagaimana cita-cita mengenai pertumbuhan berimbang antara berbagai industri dicocokan dengan jenis perencanaan menyeluruh telah jadi kebijaksanaan umum yang punya dasar kuat sesuai dengan aktual negara tersebut.
l)        Konsep pertumbuhan berimbang dapat diterapkan dinegara maju,petumbuhan berimbang diambil dari teori Keynesian berbunyi pembangunan serentak dan menyeluruh di masa pasang naik siklus perdagangan dapat membawa pada pasang naiknya siklus  perdagangan yang membawa pemulhan kembali  kegaitan ekonomi tapi di perekonomian terbelakang tidak demikan halnya terlepas apa negara campur tangan atau tidak karna diperekonomian seperti itu tak ada penundaan kegaitan ekonomi sementara waktu karena bersifat statis
m)    Kelangkaan dan kemacetan mendorong pertumbuhan,Paul streeten mengatakan bukan pertumbuhan berimbang tapi kelangkaan dan kemacetan berikan rangsang pada penemuan yang merevolusi sistem ekonomi dunia.

2.      Konsep Pertumbuhan Tidak Berimbang
            Doktrin ini lawan dari pertumbuhan berimbang,konsep ini menyatakan investasi seyogyanya dilakukan disektor terpilih daripada serentak di semua sektor ekonomi.
            Hirschman berpendapat bahwa dengan sengaja tidak menyeimbangkan perekonomian sesuai strategi yang telah dirangcang cara terbaik untuk capai pertumbuhan di negara terbelakang dengan investasi pada industri atau sektor perekonomian yang strategis akan hasilkan kesemaptan investasi baru dan buka jalan bagi pembangunan ekonomi lebih lanjut.
            Dalam praktek kebijakan pembangunan ekonomi bertujuan :
a)      mencegah investasi convergent yang ambil ekonomi eksternal lebih banyak dari yang diciptakanny
b)      . mendorong rangkaian investasi divergent yang ciptakan ekonomi eksternal lebih besar dari yang diambilnya.
            Melimpahkan perekonomian melalui  (MOS) Modal Overhead Sosial yang diartikan terdiri dari jasa atau pelayanan pokok tanpa kegiatan produksi primer,sekunder,dan tersier yang tidak berfungsi,yang didalamnya termasuk investasi di bidang pendidikan,kesehatan masyarakat,perhubungan,angkutan dan bidang lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
            Hirschman anjurkan pendirian industri tahap akhir dahulu,dalam indsutri,negara yang sedang berkembang tak perlu usahakan semua tahap produksi secara serentak tapi dapat impor pabrik converting,assembling,dan mixing bagi sentuhan terakhir produk yang hampir jadi.
            Keterbatasan :
a)      Kurang perhatian pada komposisi,arah dan saat pertumbuhan tidak berimbang,Paul streeten kritik teori ini bahwa permasalahan pokonya bukan takkeseimbangan perlu ciptakan atau tidak,ia tunjukan Hirschman tidak menaruh perhatian cukup pada komposisi arah dan saat pertumbuhan tak berimbang
b)      Abaikan perlawanan,Hirchsman abaikan reaksi lembaga-lembaga di negara terbelakang
c)      Diluar kemampuan negara terbelakang,kritik terhadap teori Nurkse juga berlaku pada teorinya sendiri bahwa investasi ciptakan ketidakseimbangan dengan demikian ciptakakn tekanan dan tegangan pada proses pertumbuhan dapat diatasi melalui mekanisme perangsangan
d)     Kekurangan fasilitas dasar,seperti dapatkan tenaga teknis,bahan mentah,dan fasislitas dasar sperti tenaga dan pengangkutan.
e)      Kekurangan mobilitas faktor,dinegara belakang sulit pindahkan sumber dari satu sektor ke sektor lain
f)       Timbulnya tekanan inflasi,jikas investasi dalam dosis besar dalam perekonomian di bidang strategis pendapatan akan naik, cendrung tingkatkan permintaan akan barang konsumen relatif pada penwarannya.
g)       Dampak kaitan tidak didasarkan data,dampak kaitan lemah karna tidak didasarkan data di negara terbelakang dimana fasilitas overhead sosial tak  dibangun selama satu generasi atau lebih
h)      Terlalu banyak penekanan pada keputusan investasi,pengambilan keputusan merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi tapi negara terbelakang tidak hanya perlukan keputusan investasi tapi juga keputusan administratif.

C.    TEORI KLASIK.
Teori pertumbuhan ekonomi Neo Klasik berkembang sejak tahun 1950-an. Teori ini berkembang berdasarkan analisis-analisis mengenai pertumbuhan ekonomi menurut pandangan ekonomi Klasik. Ekonomi yang menjadi perintis dalam mengembangkan Teori tersebut adalah Robert Solow (Massachussets Institute of Technology) dan Trevor Swan (The Australian National University). Solow ini memenangkan hadiah Nobel Ekonomi tahun 1987 atas karyanya tentang teori pertumbuhan ekonomi ini. Menurut teori ini, pertumbuhan ekonomi tergantung kepada pertambahan penyediaan. faktor¬faktor produksi (penduduk, tenaga kerja, dan akumulasi modal) dan tingkat kemajuan teknologi. Pandangan ini didasarkan kepada anggapan yang mendasari analisis Klasik, yaitu perekonomian akan tetap mengalami tingkat pengerjaan penuh (full employment) dan kapasitas peralatan modal akan tetap sepenuhnya digunakan sepanjang waktu. Dengan kata lain, sampai di mana perekono¬mian akan berkembang tergantung pada pertambahan penduduk, akumulasi kapital, dan kemajuan teknologi.

Selanjutnya menurut teori ini, rasio modal-output (capital-output ratio = COR) bisa berubah. Dengan kata lain, untuk menciptakan sejumlah output tertentu, bisa digunakanjumlah modal yang berbeda-beda dengan bantuan tenaga kerja yang jumlahnya berbeda-beda pula, sesuai dengan yang dibutuhkan. Jika lebih banyak modal yang digunakan, maka tenaga kerja yang dibutuhkan lebih sedikit. Sebaliknya jika modal yang digunakan lebih sedikit, maka lebih banyak tenaga kerja yangdigunakan. Dengan adanya "keluwesan" (fleksibilitas) ini suatu perekonomian mempunyai kebebasan yang talk terbatas dalam menentukan kombinasi modal dan tenaga kerja yang akan digunakan untuk menghasilkan tingkat output tertentu.Sifat teori pertumbuhan Neo Klasik bisa digambarkan seperti pada Gambar dibawah ini. Fungsi produksinya ditunjukkan oleh IL, IZ, dan seterusnya. Dalam fungsi produksi yang berbentuk demikian, suatu tingkat output tertentu dapat diciptakan dengan menggunakan berbagai kombinasi modal dan tenaga kerja. Misalnya untuk menciptakan output sebesar I,, kombinasi modal dan tenaga kerja yang dapat digunakan antara lain (a) K3 dengan L3, (b) K2 dengan LZ, dan (c) Ki dengan Li. Dengan demikian, walaupun jumlah modal berubah tetapi terdapat kemungkinan bahwa tingkat output tidak mengalami perubahan.Di samping itu, jumlah output dapat mengalami perubahan walaupun jumlah modal tetap. Misalnya walaupun jumlah modal tetap sebesar K3, jumlah output dapat diperbesar menjadi IZ, jika tenaga kerja digunakan ditambah dari L3 menjadi L3.Teori pertumbuhan Neo Klasik ini mempunyai banyak variasi, tetapi pada umumnya mereka dldasarkan kepada fungsi produksi yang telah dikembangkan oleh CharlesCobb dan Paul Douglas yang sekarang dikenal sebutan fungsi produksi Cobb-Douglas. Fungsi tersebut bisa dituliskan dengan cara berikut: di mana:
__ _ tingkat produksi pada tahun t
__ _ tingkat teknologi pada tahun t
__ _jumlah stok barang modal pada tahun t
__ _jumlah tenaga kerja pada tahun t
a = pertambahan output yang diciptakan oleh pertambahan satu unit modal. b = pertambahan output yang diciptakan oleh pertambahan satu unit tenaga kerja. Nilai __, a dan b bisa diestimasi secara empiris. Tetapi pada umumnya nilai a dan b ditentukan saja besarnya dengan menganggap bahwa a + b = 1, yang berarti bahwa a dan b nilainya adalah sama dengan produksi batas dari masingmasingfaktor produksi tersebut. Dengan kata lain, nilai a dan b ditentukan dengan melihat peranan tenaga kerja dan modal dalam menciptakan output.

KONSEP PEMBANGUNAN EKONOMI ROSTOW - PENGANTAR EKONOMI PEMBANGUNAN



KONSEP PERTUMBUHAN EKONOMI ROSTOW
Rostow mengkonsepkan proses pembangunan menjadi lima tahap utama dan setiap negara-negara di dunia dapat digolongkan kedalam salah satu dari kelima pertumbuhan ekonomi yang dijelaskannya. Adapun kelima tahap tersebut adalah: Masyarakat tradisonal (the traditional society), prasyarat untuk lepas landas (the procondition for take off), lepas landas (the take off), Gerakan kearah kedewasaan (the drive to maturity), dan masa konsumsi tinggi (The age of high massconsumption). Menurut rostow pembangunan ekonomi atau tranformasi suatu masyarakat tradisional menuju masayarakat modern merupakan suatu proses yang multidimensional. Dimana perubahan ini bukan hanya bertumpu pada perubahan ekonomi dari agraris ke industri saja, melainkan juga perubahan pada sosial, budaya, politik, ekonomi bahkan agama.
1.      MASYARAKAT TRADISIONAL (the traditional society).
Tahap tradisional adalah suatu masyarakat yang strukturnya berkembang didalam fungsi produksi yang terbatas, dalam artian masyarakat masih menggunakan cara-cara produksi yang relatif masih primitif dan cara hidup masyarakat yang masih dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dicetuskan oleh pemikir yang tidak rasional, tetapi oleh kebiasaan yang dilakukan scara terus menerus.Menurut rostow dalam masyarakat tradisional ini produksi perkapita masih sangat terbatas dan sumber daya produksi utama adalah sektor pertanian, sehingga sangat kecil kemungkinan untuk mengadakan mobilitas vertikal dikarenakan kedudukan masayarakat tidak akan jauh berbeda dengan kedudukan ayahnya dan sistem mobilitasnya umumnya berdasarkan sistem warisan (pemeberian).
Dalam segi politik masayarakat tradisional umunya tuan tanahlah yang memiliki otoritas tertinggi hal itu tidak lain karena pemilik tanah merupakan stratifikasi tertinggi dalam masayarakat tradisonal. Kalau dilihat sistem ilmu pengetahuan dalam masyarakat ini cenderung menyelsaikan persoalan dengan cara-car yang kurang rasional dan masih menggunakan cara berpikir budayawi dari tadisi turun temuurun.



2.     PRASYARAT UNTUK LEPAS LANDAS  (The Procondition for Take Off)

tahap prasyarat lepas landas ini adalah masa transisi dimana ketika suatu masyarakat telah mempersiapkan dirinya, atau dipersiapkan dari luar untuk mencpai pertumbuhan yang mempunyai kekuatan untu terus berkembang. Tahap prasyarat lepas landas ini dibagi menjadi sua tipe oleh Rostow. Yang pertama adalah tahap yang dilakukan dengan mengubah masyarakat tradisional yang telah ada, sedangkan yang kedua adalah brown free yaitu Amerika, Kanada, Australia, Selandia baru, dimana mereka tidak perlu merubah sistem tradisional dikarenakan masyarakat itu terdiri dari imigran-imigran yang diperlukan sebagai tahap masa prasyarat lepas landas.

Pembangunan: Perubahan yang Bersifat Multidimensi

Sebagaimana telah dinyatakan Rostow bahwa pembangunan merupakan suatu proses yang kompleks dan saling berhubungan. Misalnya saja argumen yang mengatakan bahwa tabungan akan mempercepat pembangunan, hal itu tentunya tidak akan terlaksana jika perubahan tersebut tidak diikuti oleh perubahan lain dalam masayarakat, misalnya saja cara penggunaan  tabungan dengan sebaik baiknya. Karena jika ditelaah secara multidimensi maka akan terjadi hubungan yang kompleks, misalnya tabungan akan mempercepat pembangunan melalui investasi dan tentunya akan terciptanya sarana dan prasarana umum, peningkatan kualitas pendidika dan penemuan-penemuan baru dalam bidang teknogi dan sosial.

Perombakan Struktur Ekonomi

Struktur ekonomi ini sangat penting bagi pembangunan ekonomi suatu negara, sehingga kemajuan dalam bidang pertanian, pertambangan, dan sebagainya harus diiringi dengan penananaman modal. Sehingga di negara pra landas ini untuk berkembang maka dibutuhkan sistem pertanian, pertambangan yang matang dan kemudian seiring perkembangannaya yang memerlukan pengolahan bahan mentah maka akan didirikan pabrik yang mengolah bahan-bahan tersebut.

Peran Sektor Pertanian

Kemajuan pertanian ini diperlukan untuk menjamin ketersediaan bahan makanan bagi penduduk yang bertambah; dan agar penduduk kota yang banayak akibatindustrialisasi itu dapat memperoleh bahan makanan yang cukup. Selain itu sektor pertanian yang surplus akan diekspor sebagai modal unutk membeli alat-alat produksi yang mendukung industrialisasi.

Peran Sektor Prasarana

Rostow berpendapat bahwa pada tahap transisi ini memerlukan banyak modal yang digunakan untuk membangun sarana dan prasaranan (infrastruktur). Parasaranan mempunyai tiga ciri kusus diantaranaya, masa antara pembangunan dan pemetikan hasil pembangunan sangat panjang, pembangunan memerlukan biaya yang besar, dan manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh masayarakat.

Ciri Kepemimipinan

Rostow menganalisis bahwa dalam tahap ini pemerintahan dalam masayarakat akan lebih teratur dan suatu golongan elit harus tercipta guna untuk mencapai masayarakat industri. Rostow juga menambahkan bahwa masyarakat dunia transisi ini kan berkembang jika mendapat tekanan dari negara-negara maju, karena sangat sulit sekali berkembang jika hanya dipengaruhi secara internal saja.
3.      LEPAS LANDAS (the take off)
Dalam tahap lepas landas merupakan berlangsungnya perubahan yang besar dan drastis dalam masayarakat misalnya, revolusi politik, revolusi ekonomi ataupun perkembangan inovasi-inovasi teknologi dan autput produksi. Adapun ciri-ciri tahap lepas landas adalah sebagai berikut:
a.       Terwujudnya kenaikan dalam penanaman modal yang produktif dari lebih kurang 5% menjadi 10% dari produk nasional bruto
b.      Terjadi peningkatan satu atau beberapa sektor industri dengan tingkat laju perkembangan yang tinggi.
c.       Adanya platform politik, sosial, dan intitusional baru yang akan menjamin berlangsungnya, segala tuntutan perluasan sektor modern dan potensi ekonomi ekstern.



The Inner Structure of the take off

Selanjutnya Rostow menganalisis the inner structure of the take off, yaitu perubahan-perubahan lain yang mengikuti kenaikan tingkat penanaman modal, yang terjadi dalam masa lepas landas. Perubahan yang terpenting dalam penanaman modal adalah kenaikan tingkat dana yang dipinjamkan, dan kenaikan itu berasal dari dua sumber. Pertama, adanay aliran pendaoatan termasuk perubahan dalam distribusi pendapatan dan impor modal.Sedankan sumber kedua adalah penanaman kembali keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari sektor-sektor yang sudah menagalami perkembangan yang pesat.
Pengusaha (enterpreneurs) merupakan hal yang terpenting dalam masa lepas landas ini, dimana mereka akan melakukan inovasi dan penanaman modal diberbagai sektor. Karena pada dasarnya produktivitas pertanian harus ada sebelum masa lepas landas maka akan muncul berbagai golongan petani yang mengolah pertanian secara modern.  

Peran Leadeing Sector

Diberbagai perkembangan ekonomi negara umumnya dipicu oleh sektor primer yang merupakan sektor utama munculnya industrialisasi, hal ini dikarenakan hasil yang diproduksinya menghasilkan biaya yang besar bagi pembangunan suatu negara. Jenis-jenis industri primer ini disetiap negara tidaklah sama, misalnya di Inggris yang dipicu oleh kain katun, di swedia dipicu oleh industri kayu, di denmark peternakan, di jepang industri sutra dan sebagainya.
4.      GERAKAN KE ARAH KEDEWASAAN (the drive to maturity)
Gerakan Kearah kedewasaan ini disebut juga masa sesudah lepas landas, dimasa ini masayarakat sudah mulai efektif menggunakan teknologi modrn pada sebagian besar faktor produksi dan kekayaan alamnya. Dalam tahap ini sektor pelopor baru akan menggantikan pelopor lama yang akan mengalami kemunduran. Sektor primer dalam tahap ini ditentukan oleh teknologi, kekayaan alam dan juga kebijakan pemerintah.
rostow menekankan penelaahannya pada coran perubahan sektor pelopor industri di berbagai nega maju dan ia menunjukkan bahwa setiap negara memiliki perbedaan disetiap jenis sektor pelopornya, misalnya jika Inggris industri tekstil digantikan oleh industri baja, batu bara, peralatan teknik berat. Sedangkan Dijerma dan di Amerika jaringan rel kereta api digantika dengan industri baja dan industri peralatan berat.
5.      Masa Konsumsi Tinggi (The Age of High Massconsumption).
Tahap terakhir dari teori pertumbahan ekonomi rostow ini adalah tahap konsumsi tinggi, yaitu dimana perhatian masyarakat lebih menakankan kepada masalah-masalah konsumsi dan kesejahteraan, dan bukan lagi pada produksi sehingga coraknya lebih konsumtif. Dalam tahap ini terdapat tiga tujuan utama masyarakat yang diperebutkan dalam memperoleh sumberdaya yang tersedia dan dukungan politik, yaitu:
1.      Memperbesar kekuasaan dan pengaruh negara keluar negari dan kecenderungan ini berwujud penakhlukan negara lain.
2.      Menciptakan welfare state, yaitu kemakmuran yang lebih merata bagi penduduk dengan cara melakukan pemerataan pendapatan.
3.      Mempertinggi tingkat konsumsi masayarakat diatas konsumsi keperluan utama yang sederhana seperti, makanan, pakaian, perumahan menjadi barang tahan lama dan mewah.

DAFTAR PUSTAKA
1.      Jhingan ,M.L.2002.Ekonomi pembangunan dan perencanaan.Jakarta : raja grafindo persada.

Kamis, 22 Desember 2016

makalah pengantar ekonomi pembangunan - kemiskinan



MAKALAH
PERMASALAHAN KEMISKINAN DI INDONESIA SERTA UPAYA UNTUK MENANGGULANGINYA
Untuk tugas akhir semester mata kuliah Pengantar ekonomi pembangunan



 

 



Oleh,
KEKEN SETIAWAN




UNIVERSITAS NEGERI PADANG ( UNP )
2016


KATA PENGANTAR


Puji syukur pertama kali saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan Rahmat, Karunia dan Hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PERMASALAHAN KEMISKINAN DI INDONESIA SERTA UPAYA UNTUK MENANGGULANGINYA” makalah ini merupakan tugas akhir untuk mata kuliah Pengantar Ekonomi Pembangunan.
Selanjutnya saya sangat berterima kasih kepada Bapak Dr. Yulhendri, S.pd.,M.si  dan Ibu Oknaryana, S.Pd, M.Pd.E  selaku dosen mata kuliah Pengantar Ekonomi Pembangunan, orang tua saya yang selalu mendukung saya, dan juga teman-teman yang telah mendukung dan membantu saya untuk dapat menyelesaikan makalah ini.
Harapan saya dengan adanya makalah ini, kita dapat membantu dalam menyelesaikan masalah yang ada terkait permasalah di bidang kemiskinan yang ada di indonesia saat ini.
Makalah ini saya akui banyak memiliki kekurangan karena keterbatasan kemampuan saya dalam membuatnya. Oleh karena itu saya sangat mengharapkan kritikan dan saran dari para pembaca yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini kedepannya.

Padang, 12 Desember  2016


                                                                                                Penulis

Menurut data yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia bahwa Pada Maret 2016, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,01 juta orang (10,86 persen), berkurang sebesar 0,50 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2015 yang sebesar 28,51 juta orang (11,13 persen). Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2015 sebesar 8,22 persen, turun menjadi 7,79 persen pada Maret 2016. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan naik dari 14,09 persen pada September 2015 menjadi 14,11 persen pada Maret 2016.
Walaupun tingkat kemiskinan di Indonesia sudah berangsur- angsur mengalami penurunan, namun kita masih jauh ketinggalan dengan Negara-negara lain. Karena angka tersebut masih tergolong rendah. kita masih perlu mencari dan menemukan solusi-solusi yang baik agar tingkat kemiskinan tersebut semakin menurun sebagai upaya meningkatkan pembangunan ekonomi yang ada di Indonesia.
Karena penanggulangan kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan merupakan inti dari semua masalah pembangunan dan merupakan tujuan utama kebijakan pembangunan yang ada dalam suatu Negara. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana penyebab kemiskinan itu terjadi dan upaya-upaya yang dapat dilakukan terutama di Negara kita untuk meneyelesaikan permasalahan kemiskinan ini.



Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan kemiskinan dan bagaimana kondisi kemiskinan di Indonesia saat ini ?
2.      Apa saja indikator dari kemiskinan tersebut ?
3.      Apa saja penyebab stuktural kemiskinan di Indonesia
4.      Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari adanya kemiskinan ?
5.      Bagaimana upaya pemerintah untuk menanggulangi masalah kemiskinan di Indonesia ?
1.      Mengetahui pengertian dari kemiskinan dan tingkat kemiskinan yang ada di Indonesia saat ini.
2.      Mengetahui indikator dari kemiskinan.
3.      Mengetahui penyebab stuktural kemiskinan di Indonesia dan dampak yang ditimbulkan.
4.      Mengetahui upaya pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan yang ada di Indonesia.



1.      Bagi Penulis
a.       Untuk menambah wawasan penulis
b.      Untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Pengantar Ekonomi Pembangunan
2.      Bagi Masyarakat
a.       Untuk dapat mengetahui konsep dasar tentang kemiskinan dan ketimpangan.
b.      Agar mampu mengetahui kondisi kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan di Indonesia, serta upaya pemerintah untuk menanggulangi permasalahan tersebut.
 

BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN KEMISKINAN.
Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang tidak memiliki cukup pendapatan, utamanya untuk membeli barang-barang kebutuhan dasar seperti makan, minum, pakaian, papan dsb. Sedangkan Menurut kriteria Bank Dunia penghasilan minimal per hari $2. Berikut ini adalah pengertian kemiskinan menurut para ahli.
  1. BAPPENAS (1993), mendefinisikan kemiskinan sebagai situasi kekurangan yang terjadi bukan karena kehendak oleh orang miskin, tetapi karena keadaan yang tidak bisa dihindari oleh kekuatan yang ada padanya.
  2. Levitan (1980), Kemiskinan adalah kekurangan barang dan jasa yang diperlukan untuk mencapai standar hidup yang layak.
  3. Faturchman dan Marcelinus Molo (1994), mendefinisikan bahwa kemiskinan adalah ketidakmampuan individu atau rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
  4. Menurut Ellis (1994), kemiskinan adalah fenomena multidimensi yang dapat dianalisis dari ekonomi, sosial dan politik.
  5. Menurut Suparlan (1993), kemiskinan didefinisikan sebagai tingkat rendah standar hidup, yaitu tingkat kekurangan materi dalam jumlah atau sekelompok orang dibandingkan dengan standar hidup yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
  6. Reitsma dan Kleinpenning (1994), kemiskinan mendefisnisikan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan mereka, baik material dan non-material.
  7. Friedman (1979), ketimpangan kemiskinan kesempatan untuk merumuskan kekuatan dasar dari sosial, yang meliptui: asset (tanah, perumahan, peralatan, kesehatan), sumber keuangan (pendapatan dan kredit yang memadai), organisiasi dapat dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan bersama, jaringan sosial sosial politik untuk mendapatkan pekerjaan yang dilakukan, barang atau jasa, pengetahuan dan keterampilan yang memadai dan informasi yang berguna.


B.     KONDISI KEMISKINAN DI INDONESIA.
Menurut data yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik di Indonesia didapatkan data kemiskinan di Indonesia sebagai berikut.
  • Pada Maret 2016, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,01 juta orang (10,86 persen), berkurang sebesar 0,50 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2015 yang sebesar 28,51 juta orang (11,13 persen).
  • Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2015 sebesar 8,22 persen, turun menjadi 7,79 persen pada Maret 2016. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan naik dari 14,09 persen pada September 2015 menjadi 14,11 persen pada Maret 2016.
  • Selama periode September 2015–Maret 2016, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 0,28 juta orang (dari 10,62 juta orang pada September 2015 menjadi 10,34 juta orang pada Maret 2016), sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 0,22 juta orang (dari 17,89 juta orang pada September 2015 menjadi 17,67 juta orang pada Maret 2016).
  • Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2016 tercatat sebesar 73,50 persen, kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi September 2015 yaitu sebesar 73,07 persen.
  • Jenis komoditi makanan yang berpengaruh terbesar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan, di antaranya adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, gula pasir, mie instan, bawang merah dan roti. Sedangkan untuk komoditi bukan makanan yang terbesar pengaruhnya adalah biaya perumahan, listrik, bensin, pendidikan, dan perlengkapan mandi.
Sementara itu dilihat dari perkembangan dari tahun ketahun data kemiskinan di Indonesia,
 
 

 
 



Berdasarkan tebel diatas tingkat kemiskinan tertingi untuk tingkat perdesaan dan kota+desa tertinggi terdapat pada propinsi Papua dan Nusa Tenggara Timur. Serta secara keseluruhan tingkat kemiskinan di Indonesia sejak tahun 2006 hingga 2010 mengalami penurunan. Hal ini merupakan dampak yang bagus untuk pembangunan perekonomian di Indonesia.
A.    SIKLUS KEMISKINAN DAN INDIKATOR KEMISKINAN.
1.      Siklus kemiskinan.
Berikut ini adalah siklus kemiskinan yang merupakan proses dari meningkatnya kemiskinan pada suatu Negara.
 
Berdasarkan gambar diatas faktor yang utama penyebab kemiskinan itu adalah kesehatan, pendidikan, dan keterampilan. Oleh karena itu pemerintah perlu mencari dan mengupayakan agar tingkat kesehatan, pendidikan dan keterampilan di suatu Negara menjadi meningkat sebagai upaya penting untuk menanggulangi kemiskinan.
1.      Indikator kemiskinan.
Berikut ini merupakan indikator-indikator dari kemiskinan yang biasa di gunakan.
a.       Kemiskinan relative.
Seseorang dikatakan berada dalam kelompok kemiskinan relatif, jika pendapatannya berada di bawah pendapatan di sekitarnya, atau dalam kelompok masyarakat tersebut, ia berada di lapisan paling bawah. Bisa jadi meskipun pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok, namun karena dibanding masyarakat di sekitarnya, pendapatannya dinilai rendah, ia termasuk miskin. Amerika Serikat menggunakan indikator kemiskinan semacam ini.
b.      Kemiskinan absolute.
Dilihat dari kemampuan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok (sandang, pangan, pemukiman, pendidikan dan kesehatan). jika pendapatan seseorang di bawah pendapatan minimal untuk memenuhi kebutuhan pokok, maka ia disebut miskin. Indonesia menggunakan indikator kemiskinan jenis ini.
c.       Kemiskinan kultural.
Dikaitkan dengan budaya masyarakat yang “menerima” kemiskinan yang terjadi pada dirinya, bahkan tidak merespons usaha-usaha pihak lain yang membantunya keluar dari kemiskinan tersebut.
d.      Kemiskinan stuktural.
Kemiskinan yang disebabkan struktur dan sistem ekonomi yang timpang dan tidak berpihak pada si miskin, sehingga memunculkan masalah-masalah struktural ekonomi yang makin meminggirkan peranan orang miskin.
A.    PENYEBAB STUKTURAL KEMISKINAN DI INDONESIA.
Berikut ini beberapa penyebab stuktural kemiskinan di Indonesia.
1.      Ketidakmampuan mengelola sumber daya alam secara maksimal;
2.      Kebijakan ekonomi yang tidak berkomitmen terhadap penanggulangan kemiskinan dan semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi (trickle down effect tidak bekerja)
–     Kesalahan mendasar dalam asumsi perekonomian Indonesia adalah pengangguran dan kemiskinan hanya mungkin diatasi jika ekonomi tumbuh minimal (misalnya) 6,5 %.
–     Asusmsi demikian salah, karena:
–     Yang dapat mengatasi pengangguran dan kemiskinan adalah pertumbuhan ekonomi yang melibatkan kegiatan ekonomi rakyat yang pelakunya adalah masyarakat miskin.
–     Pengangguran dan kemiskinan adalah dua hal berbeda. Orang yang menganggur belum tentu miskin.
–     Ilustrasi: 1 % pertumbuhan diasumsikan mampu menampung 200.000-400.000 tenaga kerja baru, maka pertumbuhan 6.5 % hanya mampu mempekerjakan 1,3 juta-2,6 juta tenaga kerja dan tidak ada jaminan bagi penduduk miskin yang mencapai puluhan juta jiwa.
3.      Mata pencaharian utama di sektor pertanian.
4.      Adanya perekonomian dualistis.
5.      Kurangnya pengolahan sumber daya alam secara efisien.
6.      Pertumbuhan penduduk yang cepat.
7.      Tingginya angka pengangguran
8.      Kondisi ekonomi yang terbelakang
9.      Tidak adanya inisiatif untuk berusaha
10.  Adanya kelangkaan alat modal
11.  Rendahnya tingkat penguasaan teknologi
12.  Orientasi ekspor barang primer

B.     DAMPAK DARI MENINGKATNYA ANGKA KEMISKINAN.
1.      Meningkatnya kriminalitas.
2.      Rendahnya tingkat pendidikan dan daya saing.
3.      Produktifitas menurun.
4.      Fasilitas pelayanan umum terganggu.
5.      Terhambatnya pembangunan di suatu Negara.



C.     KEBIJAKAN PEMERINTAH UNTUK MENANGGULANGI KEMISKINAN.
Berikut ini adalah kebijakan-kebijakan pemerintah di Indonesia sebagai upaya menanggulangi kemiskinan.
1.      Masa Kolonial: ‘politik etis’ balas budi.
  1. Masa Orde Baru: terkait dengan program pembangunan nasional sejak Repelita I-V. Program sektoral yang pernah dilaksanakan:
a.       BIMAS, INMAS, dan P4K (Departemen Pertanian),
    1. UPPKS (BKKBN),
    2. KUD dan Koperasi Simpan Pinjam (Departemen Koperasi),
    3. UED-SP, BKD dan PKK (Departemen Dalam Negeri),
    4. KUBE (Departemen Sosial)
    5. Wajar 9 tahun (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) dan
    6. pengembangan Puskesmas (Departemen Kesehatan)
  1. Mulai Repelita VI diluncurkan Inpres Desa Tertinggal (IDT), yang meliputi:
    1. Komponen bantuan langsung sebesar Rp 20 juta/desa sebagai dana bergulir selama 3 tahun;
    2. Bantuan pendampingan pokmas IDT oleh tenaga pendamping Sarjana Pendamping Purna Waktu (SP2W);
    3. Bantuan pembangunan sarana/prasarana
  2. Untuk masyarakat miskin di kelurahan tidak ‘tertinggal’ diluncurkan program Takesra/Kukesra.
  3. Ketika terjadi krisis ekonomi, jumlah penduduk miskin meningkat tajam karena merupakan gabungan dari penduduk miskin lama dan penduduk baru yang bersifat sementara (transient poverty).
    1. Untuk mengatasi masalah ini, dikeluarkan program Jaring Pengaman Sosial (JPS), yang dibagi dalam empat kelompok program, yaitu JPS Departemen teknis, JPS prioritas, JPS sektor-sektor pembangunan dan JPS monitoring
Berikut ini adalah kelemahan-kelemahan dari kebijakan perekonomian yang dibuat oleh pemerintah Indonesia.
  1. Tidak ada jenjang program lanjutan sehingga kelompok yang sukses dalam tahapan pertama susah mengembangkan usaha selanjutnya
  2. Terhambatnya laju pertumbuhan karena sistem pertanggungjawaban yang saling mengikat
  3. Timing pencairan kredit yang tidak tepat
  4. Kurangnya integrasi dan koordinasi program antar instansi
  5. Masih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi makro daripada pemerataan;
  6. Sentralisasi kebijakan daripada desentralisasi;
  7. Lebih bersifat karitatif daripada transformatif;
  8. Memposisikan masyarakat sebagai objek dan bukan subjek;
  9. Cara pandang tentang penanggulangan kemiskinan masih berorientasi pada ‘charity’ daripada ‘productivity’;
BAB III
PENUTUP
A .KESIMPULAN
Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang tidak memiliki cukup pendapatan, utamanya untuk membeli barang-barang kebutuhan dasar seperti makan, minum, pakaian, papan dsb. Kondisi kemiskinan di Indonesia tingkat kemiskinan tertingi untuk tingkat perdesaan dan kota+desa tertinggi terdapat pada propinsi Papua dan Nusa Tenggara Timur. Serta secara keseluruhan tingkat kemiskinan di Indonesia sejak tahun 2006 hingga 2010 mengalami penurunan. Hal ini merupakan dampak yang bagus untuk pembangunan perekonomian di Indonesia. F aktor yang utama penyebab kemiskinan itu adalah kesehatan, pendidikan, dan keterampilan. Sementara itu terdapat 4 indikator kemiskinan diantaranya, kemiskinan relative, absolute, stuktural, kultural. Beberapa kebijakan telah dibuat oleh pemerintah Indonesia namun memiliki beberapa kelemahan.
B. SARAN
Makalah ini saya akui banyak memiliki kekurangan karena keterbatasan kemampuan saya dalam membuatnya. Oleh karena itu saya sangat mengharapkan kritikan dan saran dari para pembaca yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini kedepannya.